Belajar Dari Diaspora "Cantik" Yang Sukses di Amerika

 

Alya S Lawindo 

Seorang diaspora muda Indonesia Alya Sarah Lawindo membagikan pengalaman hidup dan prestasinya dalam kegiatan Webinar Universitas Baiturrahmah (Unbrah) yang diselenggarakan pada Kamis 6 Mei 2021 melalui aplikasi ZOOM.

Alya Sarah Lawindo merupakan salah satu anak muda Indonesia yang memiliki prestasi di Amerika Serikat baik dari segi akademik, seni dan agama menyampaikan pengalamannya kepada peserta Webinar yang mencapai 500 orang.

Alya yang merupakan Mahasiswa dari American University Majoring International Studies adalah putri dari keluarga asal Minangkabau yang merantau ke Amerika. Dalam webinar yang dipandu moderator Muhammad Rizky Saputra, Alya bersama orang tuanya M Afdal dan Nani mengemukakan beragam tips untuk menjadi sukses.

Dalam Webinar tersebut Alya menyampaikan perjuangannya mempertahankan identitas sebagai orang Indonesia dan Minangkabau yang memegang prinsip budaya dan agama Islam.

Menurut Alya, orang tuanya lah yang menjadikan dirinya mencintai budaya Minangkabau dan komitmen dalam agama Islam sebab telah diajarkan semenjak usia 6 tahun.

Bahkan menurutnya khusus Agama, orang tuanya sudah menanamkan nilai Islami semenjak kecil. Mulai dari sering ikut shalat Jumat bersama ayah hingga menjaga untuk tidak memakan makanan yang haram.

Bahkan saat dirinya sekolah hingga kuliah lebih memilih membawa makanan hasil masakan bundanya agar terjamin kehalalan. Meskipun di sekolah atau kampusnya juga minim masakan semisal babi.

Alya juga mengatakan dirinya menggunakan jilbab semenjak kecil juga membaca Al Quran hingga menghafal Quran. Sebab menurutnya mempelajari agama itu sama dengan mencari GPS atau pedoman hidup.

Webinar Unbrah menghadirkan Alya S Lawindo

Dalam Webinar itu juga Alya menceritakan beragam prestasi yang diraihnya baik secara seni seperti bermain musik biola, dan prestasi akademiknya.

Alya juga mengaku orang tuanya lah yang amat dominan dan getol mengajarkan budaya Minangkabau sehingga dirinya mencintai kesenian Minangkabau seperti tarian, randai hingga musik Gamat. Bahkan musik gamaik atau gamat ini menjadi bahan tugas akhirnya.

Dari orang tuanya juga Alya menanamkan sikap menjunjung tinggi agama dan budaya sesuai falsafah Minang "Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah" (ABS-SBK).

Dalam hal ini Alya telah mendapatkan sesuatu prinsip dan kenyamanan bahwa dengan mempertahankan budaya Minangkabau dan Indonesia tetap dapat berkiprah meski di luar negeri.

Justru katanya, budaya asing seperti di Amerika yang mayoritas adalah budaya adopsi tidak patut dicontoh terlebih bila melanggar norma adat dan agama.

Sebaliknya juga menurut dia, masyarakat di Amerika Serikat juga menghormati warga yang memegang teguh budaya dan agamanya.

Selain itu secara kehidupan sosial Alya juga tidak terbatas bergaul dengan sesama muslim namun dengan non muslim. Namun dalam perkembangannya Alya mengaku tidak pernah terpengaruh oleh kebiasaan atau kepribadian teman-temannya.

Di akhir sesi webinar ini beberapa audiens atau peserta mengajukan pertanyaan langsung kepada gadis yang juga merupakan guru mengaji di salah satu Masjid di Washington DC.

Selain kepada Alya pertanyaan juga ditujukan kepada ayahnya Muhammad Afdhal dan ibunya Nani.

Salah satu yang menarik dari pertanyaan itu yakni cara orang tua Alya mendidik Alya sehingga menjadi sukses seperti sekarang.

Menurut M. Afdhal salah satu kuncinya yakni mendidik anak dengan tangan sendiri tanpa campur tangan orang lain.

Dalam hal ini kata Ayah Alya, anak secara psikologis akan dekat terhadap orang tuanya sehingga dapat dibentuk ke arah mana sesuai keinginan orang tuanya. Afdhal mengaku pendekatan budaya Minang dan Islami menjadi pedomannya dalam mendidik Alya.

Sedangkan menurut Ibu Alya, Nani mengatakan salah satu kunci pendidikan Alya yakni metode Montessori yang telah ditanamkan semenjak TK. Menurut Nani metode ini cocok dalam membina anak dalam mengembangkan daya pikir dan kreativitas sekaligus patuh pada norma yang ada.

Dia akhir sesi Orang tua Alya berharap kegiatan webinar ini bermanfaat guna memotivasi anak muda Indonesia dan orang tua dalam mendidik dan mengarahkan anaknya.

Sementara itu kegiatan ini dibuka oleh Rektor Unbrah Prof. Dr. Ir. Musliar Kasim, M.S yang diwakilkan oleh Wakil Rektor I Dr. rer. nat. Ir. Syafrimen Yasin, M.S, M.Sc.

Dalam sambutannya, Wakil Rektor berharap pengalaman dari Alya dapat membantu anak muda khususnya mahasiswa Unbrah dalam mengembangkan kemampuannya.

Adapun tema webinar ini yakni "Menjaga Warga Dunia Tanpa Menghilangkan Jati Diri".  

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel