Manusia Makhluk Sosial, Medsos Lebih Menarik Dibanding Baca Buku

Ilustrasi (pixabay.com)

Mencari ilmu dan informasi lewat media sosial atau medsos mengindikasikan bahwa manusia terwujud sebagai makhluk sosial , sehingga wajar ini intensitasnya lebih tinggi dilakukan ketimbang menambah pengetahuan dengan membaca buku.

Salah satu yang menarik  dari penggunaan medsos sebagai pencarian informasi dan ilmu yakni kebutuhan akan musyawarah, berembug dan persetujuan.

Sebab dengan adanya informasi yang "dishare" oleh seseorang kemudian orang lain ikut menyukai atau berkomentar memberikan kepercayaan kepada diri seseorang tentang kebenaran informasi tersebut.

Selain itu lewat komentar, seseorang bisa mengklarifikasi, bertanya, dan memastikan informasi atau ilmu yang dibagikan benar adanya. Bila terdapat respon yang sedikit bertentangan, tentu dapat mengajukan protes dan komentar kembali. 

Tentunya ini akan dapat dukungan tertentu dari pengguna lainnya atau justru perlawanan. Setidaknya terjadi debat dan musyawarah dalam satu pernyataan tersebut. Jelas kesemua proses di atas adalah bagian dari sosialisasi manusia meski tanpa tatap muka atau percakapan langsung.

Hal ini akan berbeda kalau hanya sekedar membaca artikel atau buku dalam mencari informasi. Sebab hasil dari membaca hanya dimiliki sendiri sedangkan diri masih bertanya-tanya kebenaran dari informasi tersebut.

Sehingga membutuhkan media untuk memastikan ilmu yang kita baca tersebut sekaligus memerlukan analisis tertentu agar semakin memahami maksudnya.

Dapat diambil contoh di dunia pendidikan dasar hingga tinggi. Siswa dan mahasiswa sering diperintahkan membaca buku sebelum masuk penjelasan guru atau dosen. Artinya pemahaman informasi atau ilmu siswa dan mahasiswa baru sebatas mengetahui dan belum mendalam.

Kelas menjadi ajang sharing sekaligus tempat musyawarah untuk memastikan kebenaran ilmu yang didapat tersebut. Berdiskusi dengan teman atau langsung bertanya dan menganalisis dari pengajar menjadikan kepercayaan terhadap pengetahuan semakin meningkat.

Secara murni dapat dilihat dari anak-anak yang baru mengenal baca tulis. Ketika anak-anak membaca tentu dia tahu. Namun dia tidak akan diam dan akan bertanya kepada kakak dan orang tuanya untuk memastikan kebenarannya.

Kemajuan teknologi dalam jaringan tentu telah menjadikan semua yang biasa dilakukan konvensional berpindah hanya dalam satu genggaman. Inilah peranan media sosial menggantikan media orang tua atau guru dalam ajang sharing ilmu secara informal.

Ilustrasi (pixabay.com)

Hanya saja zaman sekarang orang lebih senang membaca beragam ilmu dan informasi hanya dari media sosial dibanding sekedar membaca buku. Walaupun demikian tidak serta merta orang yang lebih senang mengambil ilmu dan informasi dari media sosial dikatakan malas membaca. Sebab meski hanya mengecek media sosial beberapa kali saja sudah dikategorikan melakukan pekerjaan membaca. 

Bahkan dengan adanya medsos video, orang tidak hanya dapat menambah ilmu lewat membaca namun melihat dan mendengarkan juga sehingga kepastiannya semakin terjamin terhadap suatu ilmu.

Walaupun demikian tetap saja ada yang memang menjadikan buku sebagai media utama dalam memproses informasi dan pengetahuannya. Biarpun begitu tetap saja ini membutuhkan suatu media untuk memastikan dan menganalisis kebenarannya.

Artikel ini ditulis untuk memberikan pemahaman kepada orang yang kerap "memvonis" medsos merusak pendidikan atau kepintaran seseorang. Kemudian mengkaitkan dengan malasnya membaca buku. Seharusnya bila ditilik dari sudut pandang positif, banyak juga orang menjadi pintar melalui media sosial.

Ini hanya sebuah pengamatan dan analisis penulis tentu membutuhkan riset sosial untuk membuktikan keterkaitan buku dan media sosial tersebut. Akan tetapi bila merujuk pada "life is angle" atau hidup berdasarkan sudut pandang menjadikan semuanya menjadi mungkin. Semoga bermanfaat.


Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel