Meneropong Para Pejuang Promosi Universitas

 
Ilustrasi.

Di balik hiruk-pikuk aktivitas kampus yang tampak berjalan normal, terdapat satu kerja sunyi yang jarang disorot secara adil: promosi universitas ke daerah-daerah. Kerja ini sering dianggap rutinitas tahunan, padahal sejatinya ia menjadi fondasi keberlangsungan institusi pendidikan tinggi itu sendiri.

Promosi bukan sekadar menyebar brosur atau memaparkan program studi. Ia adalah upaya mempertaruhkan masa depan kampus di tengah kompetisi yang semakin ketat, kondisi ekonomi masyarakat yang fluktuatif, serta perubahan perilaku generasi muda dalam memilih pendidikan.

Para pejuang promosi universitas bekerja dalam kondisi yang tidak selalu ideal. Cuaca buruk, jarak tempuh panjang, keterbatasan fasilitas, hingga tekanan target menjadi bagian dari keseharian mereka. Namun, semua itu kerap dipersempit maknanya hanya sebagai “tugas tambahan”.

Yudha, salah satu pelaku promosi di kampus Padang, menilai kerja lapangan sering direduksi menjadi aktivitas administratif belaka. “Padahal di lapangan kami harus membaca situasi. Tidak semua sekolah bisa diperlakukan sama. Salah pendekatan, satu sekolah bisa tertutup total,” ujarnya. Baginya, promosi adalah kerja strategi, bukan kerja mekanis.

Selain strategi komunikasi, faktor psikologis juga memainkan peran besar. Senada itu Frengky, salah satu tendik kampus di Padang mengungkapkan bahwa kerja promosi kerap menguras energi mental. “Kami berangkat dengan target tinggi, tapi situasi di lapangan sering tak terduga. Kadang hujan deras, akses sulit, tapi kegiatan tetap harus jalan,” katanya. Namun kelelahan semacam ini jarang masuk dalam perhitungan institusional.

Sedangkan pegawai kampus lainnya, Rama melihat promosi dari sudut pandang yang lebih struktural. Menurutnya, keberhasilan promosi tidak hanya berdampak pada jumlah mahasiswa, tetapi juga pada keberlangsungan banyak pihak di dalam kampus. “Kalau mahasiswa berkurang, dampaknya ke semua lini. Tapi yang sering disalahkan justru yang di lapangan,” ungkapnya.

Ilustrasi.

Dalam konteks ini, promosi sejatinya adalah kerja kolektif yang dibebankan pada segelintir orang. Mereka menjadi ujung tombak, tetapi tidak selalu diberi perlindungan sistemik yang memadai. Ketika target tercapai, hasilnya dianggap kerja bersama. Ketika gagal, beban sering kembali ke individu.

Dosen lain Sari menambahkan bahwa promosi juga menuntut pengorbanan personal. “Kami meninggalkan keluarga, menghadapi ketidakpastian, dan tetap dituntut profesional. Tapi ruang untuk bercerita atau mengeluh hampir tidak ada,” katanya. Dalam sistem yang berorientasi hasil, dimensi kemanusiaan sering terpinggirkan.

Ironisnya, kerja promosi sering tidak diposisikan sebagai kerja strategis dalam pengambilan kebijakan kampus. Ia dianggap teknis, padahal tanpa promosi yang berhasil, visi akademik hanya akan menjadi dokumen tanpa pelaksana.

Mahasiswa baru yang datang ke kampus tidak muncul begitu saja. Di baliknya ada perjalanan panjang, pertemuan tatap muka, negosiasi psikologis, hingga keyakinan orang tua yang dibangun dengan susah payah. Semua itu adalah hasil kerja para pejuang promosi.

Lebih jauh, keberhasilan promosi juga berdampak pada stabilitas kerja dosen, tenaga kependidikan, hingga pegawai pendukung lainnya. Ketika pemasukan kampus terjaga, roda institusi tetap berputar, dan banyak orang tetap bisa bekerja dengan aman.

Namun keterkaitan ini jarang disadari secara utuh. Promosi dipisahkan dari narasi besar keberlangsungan institusi, seolah ia berdiri sendiri dan tidak berkaitan langsung dengan kesejahteraan internal kampus.

Padahal, di masa krisis atau tekanan ekonomi, promosi justru menjadi benteng pertama. Ia adalah upaya mempertahankan eksistensi, bukan sekadar mengejar angka.

Meneropong para pejuang promosi universitas berarti mengakui bahwa ada kerja penting yang selama ini berada di pinggir panggung. Mereka bekerja dalam senyap, membawa nama institusi ke daerah-daerah yang tidak selalu mudah dijangkau.

Pengakuan terhadap kerja ini tidak cukup hanya dengan ucapan terima kasih. Dibutuhkan perubahan cara pandang, bahwa promosi adalah kerja strategis yang perlu dukungan, perlindungan, dan evaluasi yang adil.

Jika kampus ingin bertahan dan berkembang, maka kerja-kerja di garis depan tidak boleh terus-menerus dibebani tanpa penguatan sistem. Para pejuang promosi bukan sekadar pelaksana, mereka adalah penjaga keberlangsungan.

Pada akhirnya, opini ini bukan untuk mengglorifikasi individu, melainkan untuk mengingatkan bahwa keberhasilan institusi sering ditopang oleh kerja-kerja yang tidak populer. Selama kerja promosi masih dipandang remeh, kampus berisiko lupa pada siapa yang sesungguhnya menjaga napas panjangnya.


Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel