Luka, Sebuah Jalan Mendapat Cahaya

 
Ilustrasi.

Tahukah Anda bahwa luka paling menyakitkan bukanlah yang terlihat oleh mata? Luka terdalam sering kali lahir dari kekecewaan atau kesedihan yang menghujam jantung, di mana rasa sakit itu diakibatkan oleh pengabaian, dilupakan, atau ditinggalkan oleh orang-orang yang selama ini kita prioritaskan.

Memang luka fisik memberikan rasa perih yang nyata. Namun, jika rasa sakit itu tidak diteruskan ke dalam labirin overthinking, maka derita itu akan berhenti tepat saat luka tersebut mengering. Persoalannya, bagaimana kita menyikapi luka kekecewaan yang tak kunjung sembuh dalam ingatan?

Kecewa disebut sebagai luka karena di sana ada harapan yang mendadak menjadi "zonk". Harapan yang kita pupuk dengan dedikasi ternyata berujung pada fakta yang tidak sesuai dengan impian. Pengabaian orang lain menjadi cermin retak yang merefleksikan betapa rapuhnya sandaran kita pada manusia.

Namun, sadarkah kita bahwa saat sedang terluka, sebenarnya ada banyak hikmah yang tersembunyi di dalamnya? Mari kita ambil contoh sederhana: jatuh dari sepeda atau motor. Rasanya perih dan menyakitkan, tetapi ada pepatah lama yang mengatakan, "Kalau tidak pernah jatuh, kamu tidak akan pernah bisa."

Kejatuhan fisik itu memaksa kita untuk mawas diri dan melakukan introspeksi. Tanpa sadar, luka lecet di lutut itulah yang mengajarkan kita untuk membawa motor dengan lebih hati-hati di kemudian hari. Bukankah kesadaran untuk menjaga keseimbangan ini merupakan sebuah hikmah yang sangat mahal?

Ilustrasi.

Memang tidak semua orang bisa langsung melakukan introspeksi setelah terjatuh. Namun, pada hakikatnya, setiap orang yang terluka sebenarnya sudah memegang paket hikmah tersebut. Tinggal sejauh mana tingkat kesadaran mereka untuk membuka dan mengukur hikmah yang ada di dalamnya.

Hal ini menegaskan sebuah kebenaran spiritual bahwa luka sebenarnya adalah pintu gerbang. Sesuai dengan apa yang pernah diisyaratkan Jalaludin Rumi, luka merupakan jalan bagi kita untuk memperoleh "cahaya" dari Sang Maha Pencipta, Allah SWT, yang menyinari kegelapan batin kita.

Kini, mari kita melihat luka di dalam hati. Luka jenis ini terlihat seperti sebuah persimpangan jalan yang membingungkan: apakah kita akan memilih putus asa atau introspeksi? Ini adalah sebuah timbangan yang menentukan apakah kita akan menyerah pada keadaan atau bangkit melawan.

Menariknya, sebagian besar orang akhirnya mampu untuk move on dari luka mereka, meski terkadang hanya tampak di permukaan saja. Namun, kemampuan untuk kembali bekerja, belajar, atau sekadar melakukan aktivitas harian adalah bukti bahwa cahaya itu sudah mulai merembes masuk saat luka masih menganga.

Lalu, mengapa cahaya itu justru masuk saat kita terluka? Sebab, pada fase terluka, jiwa kita sedang berada dalam kegelapan yang pekat. Dan Allah adalah Dzat yang Maha Adil; di mana ada kegelapan yang menyelimuti hamba-Nya, di situ pula Ia akan menghadirkan penerangan sebagai penyeimbang.

Ilustrasi.

Bagaimana cara Allah memberikan penerangan itu? Tentu caranya sangat personal dan beragam bagi setiap individu. Namun, bentuk yang paling sering ditemui adalah dalam wujud "kesadaran". Kesadaran bahwa dunia ini fana dan manusia hanyalah perantara, bukan tujuan utama dari harapan.

Jika kita melihat dari perspektif manusiawi, memang tampak tidak semua orang mendapatkan cahaya tersebut. Ada yang mampu melangkah maju dengan gagah, namun ada pula yang terus berlarut dalam kesedihan yang mendalam hingga nyaris berujung pada keputusan putus asa.

Perbedaan hasil ini bisa jadi berasal dari rida atau tidaknya Allah terhadap hamba-Nya. Namun, bisa jadi pula Allah sebenarnya telah memancarkan cahaya itu secara melimpah, hanya saja manusia itu sendiri yang memilih untuk menutup jendela hatinya dan menolak kehadiran cahaya tersebut.

Maka, berbahagialah saat Anda merasa terluka karena diabaikan di tempat kerja atau dikecewakan oleh sahabat. Itu adalah isyarat bahwa Allah sedang menghancurkan berhala-berhala harapan palsu di hati Anda agar Cahaya-Nya yang murni bisa masuk mengisi kekosongan tersebut.

Pada akhirnya, luka bukanlah akhir dari segalanya, melainkan awal dari sebuah pemahaman yang baru. Saat kita berhenti menjadi peminta pujian dari sesama dan mulai mencari rida dari Sang Maha Cahaya, barulah kita sadar bahwa setiap goresan luka adalah tanda cinta Allah yang sedang memurnikan jiwa kita.


Referensi : 

-Rumi, Jalaluddin. The Masnavi. (Diterjemahkan oleh Coleman Barks).

​-Al-Qur'anul Karim, Surah Al-Baqarah ayat 257.

​-As-Sakandari, Ibnu Atha'illah. Al-Hikam.

​-Tedeschi, R. G. & Calhoun, L. G. (2004). Posttraumatic Growth Concept.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel