Ketika Tepuk Tangan Harusnya Selalu Ada Setiap Waktu

 

Tepuk tangan itu ibarat lampu tanda bahwa hati dan pikiran kita sudah terbuka menerima ilmu. Kalau pembicaranya asyik dan gampang dimengerti, tepuk tangan akan terdengar terus seperti suara riuh penonton yang puas. Tapi kalau bicaranya berat, membosankan, atau bahasanya tak dipahami, tepuk tangan cuma ada sekali di akhir saja, persis seperti orang yang buru-buru pulang karena sudah tak tahan lagi duduk diam.

Bayangkan seperti kita makan di rumah makan. Kalau masakannya enak, pas di lidah, dan penyajiannya rapi, kita pasti puas dan mau datang lagi. Tapi walau bahannya mahal dan bagus, kalau disajikan berantakan atau rasanya terlalu kuat sampai tak bisa ditelan, kita pasti susah menikmatinya. Begitu juga ilmu, sehebat apa pun isinya, kalau cara penyampaiannya tak pas, pendengar tak akan bisa paham dan merasakan manfaatnya.

Banyak yang bilang, “Wah takut deh mengatur pembicara, apalagi kalau dia pejabat, dosen senior, atau pimpinan sendiri. Kan kita bawahan, nanti dianggap kurang ajar.” Padahal anggapan ini sudah kuno banget, ibarat masih pakai telepon kabel di zaman yang sudah serba ponsel pintar. Sekarang zamannya sudah beda, apalagi kita hidup di era perkembangan zaman dan generasi muda. Sekarang rasa hormat itu didapat dari cara bersikap dan berkomunikasi, bukan cuma dari pangkat atau jabatan semata.

Ini ibarat aturan main di lapangan sepak bola. Wasit dan aturan main itu sama saja buat semua pemain, tak peduli dia kapten tim, bintang lapangan, atau pelatih sekalipun. Kalau melanggar aturan, tetap saja kena sanksi. Di kampus pun begitu, aturan acara

dibuat supaya semuanya berjalan lancar dan tujuannya tercapai, bukan buat merendahkan siapa pun. Siapa saja yang bicara, tetap harus ikuti alur acara supaya ilmunya bisa sampai ke hati pendengar dengan baik.

Apresiasi mahasiswa itu sebenarnya sederhana saja. Mereka senang dan hormat kalau pembicara mau “mengenal tamunya” dulu sebelum mulai bicara. Misalnya, kalau yang dengar mahasiswa baru, bahasanya dibuat santai dan gampang dimengerti. Kalau pakai bahasa asing atau istilah rumit, jelaskan dulu artinya. Jangan sampai seperti orang bicara bahasa asing tanpa penerjemah, yang dengar cuma mengangguk-angguk tapi sebenarnya tak paham sama sekali.

Mahasiswa sering punya info atau masukan lho, mana cara bicara yang enak didengar dan mana yang bikin cepat ngantuk. Masukan ini ibarat peta jalan yang menunjuk arah mana yang paling bagus supaya cepat sampai ke tujuan. Sayangnya sering kali suara mahasiswa dianggap sepele atau tak perlu didengar. Padahal, mau mendengar pendapat orang lain itu justru tanda orang yang hebat, pikirannya terbuka, dan mau belajar demi kebaikan bersama.

Dalam panduan acara, kita bisa tulis hal-hal yang sederhana saja. Misalnya: waktu bicara jangan terlalu lama supaya tak bikin pegal dan bosan, selingi dengan cerita seru atau gerakan ringan supaya otak segar kembali, dan pakai bahasa yang dimengerti semua orang. Ini sama sekali bukan mengkerangkeng kebebasan bicara, melainkan justru membantu pembicara supaya ilmunya makin berkesan dan tak mudah dilupakan pendengarnya.

Mengundang pembicara dan menyampaikan panduan ini ibarat mengundang tamu ke rumah. Kita akan bilang, “Silakan datang, tapi harap pakai sepatu yang nyaman dan jalannya hati-hati ya.” Itu sama sekali bukan melarang tamu datang, tapi memberi tahu hal yang perlu diketahui supaya tamu merasa nyaman dan aman. Begitu juga panitia, boleh kok menyampaikan panduan ini dengan sopan jauh hari sebelumnya, supaya pembicara siap dan bisa menyesuaikan diri.

Kalau pimpinan atau orang penting yang bicara, dan dia mau mengikuti panduan itu, itu justru luar biasa bagusnya. Dia jadi contoh nyata bahwa aturan itu berlaku buat semua orang, dan dia sangat menghargai waktu serta perhatian pendengar. Rasa hormat mahasiswa akan tumbuh makin besar, ibarat api yang makin menyala terang, karena mereka melihat keteladanan dan kesederhanaan dari pemimpin yang mereka kagumi.

 

Sebaliknya, kalau pembicara merasa dirinya paling tinggi dan bebas berbuat apa saja, rasa hormat malah akan luntur pelan-pelan. Mahasiswa mungkin diam saja karena segan, tapi di hati mereka tak merasa terkesan atau mendapat manfaat apa pun. Ini ibarat pimpinan yang galak dan keras, orang takut padanya tapi tidak mencintai dan menghormati dengan tulus. Padahal tujuan utama kita berbagi ilmu adalah supaya disayangi dan diingat manfaatnya.

 

Zaman sekarang, kemajuan itu ditandai dengan kesetaraan dan keterbukaan. Anggapan “bawahan tak boleh atur atasan” itu ibarat sepatu lama yang sudah kekecilan, harus diganti dengan yang baru supaya nyaman dipakai jalan. Di lingkungan pendidikan pun begitu, aturan dibuat supaya semua sama rata, sama terlayani, dan sama-sama mendapat manfaat. Ini juga sudah tertuang jelas dalam aturan pendidikan dan standar mutu yang wajib kita jalankan bersama.

 

Jadi, tepuk tangan yang ada setiap saat itu adalah bukti paling nyata. Bahwa ilmu sudah tersampaikan dengan baik, hati sudah tersentuh, dan pikiran sudah terbuka luas. Lembaga pendidikan yang ingin maju dan berakhlak mulia, harus berani menerapkan cara pandang baru ini. Supaya setiap kegiatan yang ada selalu jadi momen indah yang penuh ilmu, penuh rasa hormat, dan pastinya selalu meriah dengan tepuk tangan yang tulus.


Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel