Memahami Arti "Life Is Angle"

Ilustrasi (pixabay.com)

Bukan hanya fotografi yang membutuhkan angle atau sudut pandang, lebih dari itu hidup juga didasarkan atas sudut pandang.

"Life is angle" atau hidup didasarkan sudut pandang ini bukanlah sesuatu yang lebay atau direkayasa, sebab pada dasarnya aktivitas sehari-hari amat dipengaruhi hal ini.

Sudut pandang atau "angle" positif dan negatif menjadi sebuah dominasi dalam kehidupan khususnya saat memandang kehidupan sosial.

Keduanya baik positif dan negatif tidak dapat dilakukan secara terus menerus mengingat sifat manusia yang dinamis dan penuh pemikiran.

Pada pengalaman banyak orang mengambil sudut pandang negatif akan lebih mudah ketimbang mempertahankan sudut pandang positif. Banyak hal penyebabnya termasuk secara agama adanya godaan Syetan yang hingga hari kiamat akan terus mengganggu manusia untuk patuh pada kebenaran yakni ajaran Allah SWT.

Hal lain menurut beberapa penelitian para psikolog bergantung pada kecerdasan yang kemudian membentuk kepribadian. Dari penelitian tersebut orang dengan kecerdasan tingkat tinggi dapat dikatakan memiliki kemampuan dalam membedakan sudut pandang.

Walaupun begitu karena intensitas berpikirnya juga tinggi, orang cerdas cenderung skeptis pada berbagai hal. Di samping itu sikap skeptisnya juga didorong pada ketidakpuasan akan beragam hal yang memotivasi menciptakan temuan.

Dengan kata lain penemuan2 baru muncul karena adanya ketidakpuasan atau sudut pandang negatif pada yang telah ada. Hal ini mengindikasikan sudut pandang negatif tidak serta merta menghasilkan produk yang negatif juga.

Bila saja pandangan orang hebat selalu positif dan menerima apa adanya kemungkinan komputer atau ponsel hingga saat ini tidak ditemukan.

Ilustrasi (pixabay.com)

Hanya saja dalam kehidupan sosial sebagian masyarakat,  stigma berpandangan negatif biasnya berimplikasi pada hal yang negatif juga. Sebagai contoh saat seseorang memandang buruk perilaku rekannya, maka akan timbul kebencian, kedengkian yang ujung-ujungnya memutus silaturahmi.

Pada kenyataannya amat segelintir orang yang dapat berpandangan positif bila respon yang didapat sebaliknya. Walaupun,  mungkin saja sebagian yang lain dapat mengubah cara pandang dari negatif menjadi positif.

Lalu bagaimana dengan cara pandang positif? Teknisnya ada pada kemampuan mengubah pola pikir. Tentu hal ini tidak mudah mengingat persoalan manusia setiap hari akan lebih banyak ketimbang solusi yang didapatkan. Meski juga ini berdasarkan intuisi dan intelegensia dalam memecahkan masalah tersebut.


Sebagai gambaran saat seseorang dipandang seorang yang sombong, pastinya akan sulit dia dikatakan rendah hati. Terlebih dalam ajaran agama juga secara gamblang disebutkan tentang perbuatan tercela manusia. Sehingga bila itu tampak di pelupuk mata, persepsi sulit diubah terlebih bila perilaku tersebut berulang-ulang.

Meskipun demikian, bila kita ingat kepada Allah SWT yang merupakan satu-satunya  yang bisa menilai manusia sebenar-benarnya tentu masih ada peluang manusia mengubah sudut pandang.

Sebagai contoh sombong tadi, bila dari sudut pandang agama itu perbuatan tercela tentu akan menerima hukumannya. Akan tetapi kita tidak bisa memvonis seseorang itu seorang yang mutlak buruk perilakunya. Artinya bila kita sedikit menggeser pandangan, ada kemungkinan terdapat hal positif yang dimiliki orang sombong tadi.

Bisa saja seorang yang sombong terpaksa melakukannya karena tuntutan hidup. Di samping itu sudut pandang ini juga perlu dibandingkan dengan sudut pandang orang lain. Mungkin saja bagi kita dia sombong tapi bagi yang lain dia rendah hati. Kadang kala hanya dari alasan satu sudut pandang saja yakni negatif maka persepsi juga negatif.

Untuk mengubah "angle" dari negatif ke positif memang butuh pemikiran dan analisis mendalam. Akan tetapi bila dibarengi dengan ketaatan pada Allah SWT, tentunya "angle" positif selalu disisipkan pada pemikirannya. Sehingga mereka yang rajin beribadah dan berserah diri jarang berpikir negatif pada berbagai hal.

Sebagian besarnya paham bahwa ketaatan itu lebih penting dari segalanya. Termasuk selalu berdoa dan berharap pada kebaikan juga diyakini menjadi tambahan energi positif yang memberikan pemikiran positif juga. Persepsinya dengan meninggalkan larangan Allah SWT dan melakukan perintah Nya, akan ada implikasi positif dalam kehidupannya.

Secara agama dengan dekat kepada Allah SWT akan terhindar dari godaan Syetan yang selalu membuat manusia berpikir negatif. Selain itu sesuai yang ada dalam Al Quran dan Hadist Nabi. Manusia yang mau dekat dengan Allah SWT akan senantiasa diberikan kebaikan dan jauh dari buruk sangka atau berpikir negatif.

Seyogyanya lebih menguntungkan saat pandangan kita selalu positif pada berbagai hal. Seperti memiliki pertemanan yang baik, kesan yang baik dari orang lain hingga memiliki ketenangan dalam mencapai kesuksesan.

Walaupun demikian, dalam kehidupan nyata secara sosial sikap kritis dan berpandangan negatif juga kadang kala perlu dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan fitnah dan ancaman. Pandangan negatif ini wajib diambil oleh manusia bila itu ditujukan pada godaan syetan dan sebangsanya.

Dengan demikian hidup di dunia ini amat erat berdasarkan dua sudut pandang mutlak yakni positif dan negatif. Tulisan ini barulah opini serta kajian dari penulis, tentu tidak semua memiliki pandangan seperti di atas. Semoga bermanfaat.








Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel